SHARE

Empat medali emas dikumpulkan oleh ; Paramitha Nur Dea Pujiastuti (SMA 8 Kediri Jawa Timur – kelas kata individu U21 Putri), Muhammad Rizaldi (SMAN 38 DKI Jakarta – kelas Kata Individu U21 Putra)Rizal Eka Wikanda (SMAN 6 Surakarta Jawa tengah – Kumite U18 kelas -68 kg Putra), dan Maslikhah Surani (SMAN 7 Surabaya Jawa timur – Kumite U18 kelas -48 kg Putri). Satu medali perak juga direbut oleh Paramitha Nur Dea Pujiastuti pada kelas Kumite -50 kg senior Putri. Sedangkan dua medali perunggu diraih oleh Dimas Hadi Saputro Siswa (SMAN 1 Tualang Riau – Kumite U18 -55 kg Senior Putra) dan Melva Natalia (SMAN 1 Pangkalan Kerinci Riau – Kumite U18 -53 kg Putri).

Keenam juara karate ini merupakan hasil seleksi secara berjenjang dari Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tahun 2018. Kementerian Pendidikan dan Kebudayan melalui Direktorat Pembinaan SMA bekerjasama dengan Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (PB. FORKI) selanjutnya menyeleksi, membina dan melatih para peserta untuk berkompetisi pada kejuaraan karate tingkat dunia, International De La Province De Liege 2018.Turnamen ini merupakan kejuaraan karate dengan tingkat kompetisi yang tinggi. Diikuti oleh 1.109 peserta dari 127 tim yang berasal dari 24 negara Eropa, Asia dan Afrika serta Amerika. Bahkan beberapa peserta merupakan tim nasional yang baru saja mengikuti  kejuaraan dunia karate WKF di Madrid, Spanyol pada tanggal 6 – 11 November 2018 yang lalu. Keberangkatan tim karate Indonesia didampingi oleh Suharlan SH, MM sebagai manajer tim, Alex Firngadi sebagai wakil manajer, Denies Ibrahim Sani dan Yoyo Satrio dari PB. FORKI sebagai pelatih.

Dirjen Dikdasmen Hamid Muhammad Ph.D mengatakan, secara materi dan tekhnik mereka sudah sangat hebat, karena pada akhirnya semua anak mendapatkan medali dan yang membahagiakan adalah raihan 4 emas sekaligus. “Kami seluruh jajaran Kemdikbud sangat bangga dan Mendikbud secara khusus menyampaikan apresiasinya kepada mereka. Kita menempati peringkat ketiga, tentu ini prestasi yang luar biasa. Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh pendukung baik dari jajaran Kemdikbud maupun PB. FORKI atas kerjasama dan kekompakannya dalam menyeleksi, membina dan melatih hingga mencapai prestasi tertinggi. Untuk selanjutnya para juara ini akan kita serahkan ke induk organisasi pembinaan atlit untuk dibina lebih lanjut. Ke depan kita (baca;Kemdikbud) sudah tidak bisa lagi memasuki area olahraga prestasi, melainkan olahraga pendidikan yang sifatnya menyemai, membibitkan sampai menjadi calon-calon atlet di tingkat nasional dan internasional. Setelah itu kita menyerahkan kepada PB.FORKI untuk dibina lebih lanjut menjadi calon-calon atlit nasional yang mungkin akan bertanding pada event yang lebih tinggi lagi.” Tutur Hamid.

 

Direktur Pembinaan SMA, Purwadi Sutanto sangat mengapresiasi atas prestasi yang luar biasa ini. “Ini menjadi tantangan buat kita di Direktorat untuk mempertahankan prestasi ini dengan membina lagi, mencari bibit yang hebat dari awal melalui O2SN. Ini adalah pembentukan prestasi awal, untuk melanjutkan prestasinya nanti. Mereka masih sangat muda, jalur prestasi mereka masih terbuka lebar, dan bisa memberikan kontribusi terbaik bagi negeri ini sebagai atlit handal melalui lembaga pembinaan atlit. Pesan moral juga yang mereka sampaikan bahwa prestasi itu bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga harus didasari dengan kekuatan mental, spiritual dan karakter yang kuat. Terbukti dari kekompakan, kerjasama, tolerasi antar mereka di Belgia yang saya dengar dari pelatih sangat baik dan ini harus dicontoh dengan atlit-atlit muda lainnya.” Ujar Pak Purwadi.

 

Alex Firngadi mewakili manajer tim menguraikan, prestasi tahun ini luar biasa, dan ini jauh lebih baik dari prestasi-prestasi sebelumnya. “Kita (baca;Kemdikbud) mengirimkan tim karate pada kejuaran dunia sudah sejak tahun 2006 sampai sekarang, dan inilah capaian terbaik yang kita raih. Tahun lalu hanya 2 emas, 1 perak, 2 perunggu. Saya melihat tahun ini peserta lebih solid dan rasa kekeluargaannya erat sekali, mereka lebih tekun, disiplin, dan selalu berdo’a sebelum bertanding. Tentunya ini juga berkat kegigihan para pelatih yang fokus membina mereka selama tiga minggu sebelum berangkat ke Belgia dengan ketahanan fisik, taktik dan strategi yang sangat baik untuk menghadapi peserta yang umumnya lebih tinggi postur tubuhnya.” Jelas Alex.

 

Pelatih Denies Ibrahim Sani yang biasa disapa Sinsei oleh anak didiknya mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi ini. Ia menuturkan, sejak awal keberangkatan ke Belgia sampai hari ini kekompakan mereka memang luar biasa. Menurutnya, ini semua efek dari pelatihan selama tiga minggu yang diadakan oleh Kemendikbud. Meski awal kedatangan mereka masih membawa idealisme kedaerahan, kemudian kita satukan visi dan misinya bahwa ini adalah NKRI dan membawa nama bangsa. Jadi mereka berjuang bukan atas nama menang kalah, tapi atas nama martabat bangsa dan negara, karena prinsip yang kita tanamkan inilah mereka bisa maksimal berlaga. “Selama tiga minggu sebelum keberangkatan, mereka latihan 3x dalam sehari ; pagi, sore, dan malam. Saya melatih ketahanan fisik mereka dulu. Percuma kalau tekhnik bagus, tapi fisik lemah. Baru kemudian bicara tekhnik dan mental. Tiada hari tanpa evaluasi, supaya mereka bisa mendekati sempurna dan meminimalisir kesalahan mereka. Saya memang punya target buat sejarah baru dengan melebihi pencapaian tahun lalu, paling tidak semua atlit saya ini pulang dari Belgia bawa piala.” Jelas pelatih PON karate DKI Jakarta ini.

 

Salah satu peraih medali emas, Rizal Eka Wikanda mengaku sangat bangga dengan prestasi ini karena bisa membawa nama Indonesia di tingkat dunia, membanggakan orang tua dan sekolah. “Walaupun masa remaja saya sedikit hilang karena setiap hari fokus latihan, tapi masih positif, dapat uang bisa bantu-bantu buat kebutuhan sekolah, ketimbang main-main dan nongkrong nggak jelas. Intinya tetap semangat kalau latihan, apa yang diinstruksikan pelatih itu harus dijalani. Tetap semangat, jaga kekompakan, dan jaga ibadahnya.” Cerita Eka dan rekan-rekannya.

 

Semua atlit mengaku Belgia dan Belanda adalah lawan beratnya. Mengalahkan beberapa negara lainnya seperti Brazil, Irlandia, dan Amerika juga menjadi salah satu kebanggaan mereka. “Selama pembinaan kita diajarkan kebersamaan, peduli satu sama lain. Kemana mana bersama-sama, misalkan saya yang kristen beribadah dianterin. Kami sangat patuh pada Sinsei, karena dia menggantikan orang tua kami selama di Belgia.” Terang Melva Natalia. Sumber https://psma.kemdikbud.go.id/index/main_news_detail.php?id=1206

Teks & Foto : Potensi/Tim Publikasi Direktorat

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here